Perilaku Konsumen 9

2012
01.04

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon. Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology – Bogor Agricultural University

Lecturer: Dr Ir Ujang Sumarwan, M.Sc

Session 8

 

Karakteristik Demogafi, Sosial, dan Ekonomi Konsumen

Sub budaya: bagian kecil dari budaya yang didasarkan pada perbedaan karekteristik sosial, ekonomi, dan demografi.

Karakteristik demografi: usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, agama, suku bangsa, pendapatan, jenis keluarga, status pernikahan, lokasi geografi, dan kelas sosial.

  1. 1.       Usia

Konsumen yang berbeda usia akan mengkonsumsi produk dan jasa yang berbeda. Perbedaan usia juga akan mengakibatkan perbedaan selera dan kesukaan terhadap merek.

Siklus hidup manusia: a) bayi dibawah satu tahun; b) batita; c) balita; d) anak usia sekolah (6-12 tahun); e) remaja awal (13-15 tahun); remaja lanjut (16-18 tahun); dewasa awal (19-24 tahun); dewasa lanjut (25-35 tahun); separuh baya (36-50 tahun); tua (51-65 tahun); lanjut usia (di atas 65 tahun).

Kaitan usia dengan pemasaran: klasifikasi produk berdasarkan usia. Contoh: produk susu ZEE yang memposisikan produknya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi konsumen dengan usia yang berbeda.

Pasar konsumen anak bisa dibedakan ke dalam tiga kelompok umur: 4-6 tahun, 7-9 tahun, dan 10-12 tahun (Handi Irawan 2001). Lima segmen anak (survey Frontier): 1) Self determined: tingkat kepercayaan diri  tinggi, membeli produk karena keinginan sendiri, bertanggung jawab atas keputusannya; 2) Sluggish Kid: kurang aktif, banyak menonton tv, kurang taat menjalankan perintah agama, sulit menerima nasihat; 3) Obedient kid: ambisius, aktif di luar sekolah, menonton TV pada waktu yang ditentukan, rajin belajar, sebagian besar anak perempuan; 4) Happy Jolly Kids: sangat periang, tidak stress, senang bepergian dengan orang tua, jarang melakukan pembelian sendiri, mempengaruhi orang tua dalam membeli; 5) Reliant Kids: dekat dengan orang tua, uang saku sedikit, kurang bermain, kurang mandiri, mempengaruhi orang tua dalam pembelian.

  1. 2.       Pendidikan dan pekerjaan

Pendidikan dan pekerjaan adalah dua karakteristik konsumen yang saling berhubungan. Pendidikan akan menentukan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh seorang konsumen. Profesi dan pekerjaan seseorang akan mempengaruhi pendapatan yang diterimanya. Pendapatan dan pendidikan tersebut kemudian akan mempengaruhi proses keputusan dan pola konsumsi seseorang.

Tingkat pendidikan juga akan mempengaruhi nilai-nilai yang dianutnya, cara berpikir, cara pandang, bahkan persepsi terhadap suatu masalah. Konsumen yang memiliki pendidikan lebih baik akan sangat responsive terhadap informasi, pendidikan juga mempengaruhi konsumen dalam pilihan produk maupun merek. Dari sisi pemasaran, semua konsumen dengan tingkat pendidikan yang berbeda adalah konsumen potensial bagi seluruh produk dan jasa.

  1. 3.       Lokasi geografik

Dimana seorang konsumen tinggal akan mempengaruhi pola konsumsinya. Orang yang tinggal di desa akan memiliki akses terbatas pada produk dan jasa. Sebaliknya, konsumen yang tinggal di kota-kota besar lebih mudah memperoleh semua barang dan jasa yang dibutuhkannya. Para pemasar harus memahami dimana konsumen tinggal agar ia bisa memfokuskan kemana produknya akan dijual.

Penduduk desa dan kota memiliki perbedaan dalam pola konsumsi pangan. Rumah tangga di pedesaan mengeluarkan 70% dari pendapatannya untuk membeli makanan dan minuman sedangkan penduduk perkotaan hanya mengeluarkan 56%.

  1. 4.       Pendapatan

Jumlah pendapatan akan menggambarkan besarnya daya beli dari seorang konsumen. Daya beli akan menggambarkan banyaknya produk dan jasa yang bisa dibeli dan dikonsumsi oleh seorangkonsumen dan seluruh anggota keluarganya. Daya beli sebuah rumah tangga akan ditentukan oleh jumlah pendapatan dari semua anggota rumah tangga tersebut.

  1. 5.       Kelas sosial

Kelas sosial adalah bentuk lain dari pengelompokan masyarakat ke dalam kelas atau kelompok yang berbeda. Kelas sosial akan mempengaruhi jenis produk, jenis jasa, dan merek uang dikonsumsi konsumen. Kelas sosial juga mempengaruhi pemilihan toko, tempat pendidikan, dan tempat berlibur dari seorang konsumen. Konsumen juga sering memiliki persepsi mengenai kaitan antara satu jenis produk atau sebuah merek dengan kelas sosial konsumen.

Faktor yang menentukan kelas sosial (Gilbert dan Kahl dalam Engel, Blackwell, dan Miniard 1995): 1) variabel ekonomi:  status pekerjaan, pendapatan, harta benda; 2) variabel interaksi: prestis individu, asosiasi, sosialisasi; 3) variabel politik: kekuasaan, kesadaran kelas, mobilitas.

 

Sumber:

Sumarwan U. 2011. Perilaku konsumen: Teori dan penerapaannya dalam pemasaran. Bogor [ID]: Penerbit Ghalia Indonesia

Perilaku Konsumen 8

2012
01.04

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon. Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology – Bogor Agricultural University

Lecturer: Dr Ir Ujang Sumarwan, M.Sc

Session 8

Budaya

Budaya adalah segala nilai, pemikiran, dan simbol yang mempengaruhi perilaku, sikap, kepercayaan, dan kebiasaan seseorang dan masyarakat.

Artefak budaya: objek material/manifestasi material dari budaya.

Makna budaya (cultural meaning): nilai-nilai, norma-norma, dan kepercaayan yang dikomunikasikan secara simbolik. Makna budaya yang telah melekat kepada produk akan dipindahkan kepada konsumen dalam bentuk pemilikan produk (possession ritual), pertukaran (exchange ritual), pemakaian (grooming ritual), dan pembuangan (divestment ritual). Contoh: Merek sedan BMW, Mercedes, dan Lexus dianggap sebagai kendaraan mewah, symbol orang kaya.

Sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh budaya (Engel, Blackwell, dan Miniard 1995):

  1. Kesadaran diri dan ruang
  2. Komunikasi dan bahasa
  3. Pakaian dan penampilan
  4. Makanan dan kebiasaan makan
  5. Waktu dan kesadaran akan waktu
  6. Hubungan keluarga, organisasi, dan lembaga pemerintah
  7. Nilai dan norma
  8. Kepercayaan dan sikap
  9. Proses mental dan belajar
  10. Kebiasaan kerja

Unsur-unsur budaya:

  1. Nilai (Value): kepercayaaan atau segala sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang atau suatu masyarakat. Contoh: laki-laki adalah kepala rumah tangga, menghormati orang yang lebih tua atau memiliki jabatan yang lebih tinggi, hamil di luar nikah adalah aib.
  2. Norma (Norms): aturan masyarakat tentang sikap baik dan buruk, tindakan yang boleh dan tidak boleh.

a)      Enacted norms: norma yang disepakati berdasarkan aturan pemerintah dan ketatanegaraan. Berbentuk peraturan dan undang-undang.

b)      Cresive norms: norma yang ada dalam budaya dan bisa dipahami dan dihayati jika orang tersebut berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang sama. Ada tiga jenis cresive norms, yaitu:

ü  Kebiasaan (Customs): berbagai bentuk perilaku dan tindakan yang diterima secara budaya. Ciri: diturunkan dari generasi ke generasi, dapat menyangkut berbagai jenis perayaan rutin (contoh: upacara pernikahan, upacara keagamaan, dan lain-lain).

ü  Larangan (Mores): berbagai bentuk kebiasaan yang mengandung aspek moral, basanya berbentuk tindakan yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang dalam suatu masyarakat. Dapat bersumber dari budaya dan agama.

ü  Konvensi (Conventions): menggambarkan anjuran atau kebiasaan bagaima seseorang harus bertindak sehari-hari dan biasanya berkaitan dengan perilaku konsumen. Contoh: makan bubur dengan sambal, minum the dan kopi selalu dengan gula, menyebut orang yang dihormati dengan sebutan bapak atau ibu.

  1. Mitos: menggambarkan sebuah cerita atau kepercayaan yang mengandung nilai dan idealisme bagi suatu masyarakat. Sering kali sulit dibuktikan kebenarannya. Contoh: mitos tentang Wali Songo pada masyarakat Jawa, mitos mengenai teh, mitos angka 13 dan 14 sebagai angka keburukan atau ketidakberuntungan.
  2. Simbol: segala sesuatu (benda, nama, warna, dan konsep) yang memiliki arti penting lainnya (makna budaya yang diinginkan). Contoh: bendera kuning menandakan ada orang yang meninggal, mobil kijang (produk Toyota) menggambarkan sosok mobil yang setangguh dan secepat kijang.

Budaya populer: budaya yang dimiliki oleh semua masyarakat yang melewati batas negara, bangsa, agama, ras, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Ciri: mudah dipahami, diperoleh dengan mudah. Berbagai budaya populer: iklan, televisi, musik, radio, pakaian dan aksesoris, permainan, film, dan komputer.

 

Sumber:

Sumarwan U. 2011. Perilaku konsumen: Teori dan penerapaannya dalam pemasaran. Bogor [ID]: Penerbit Ghalia Indonesia

Perilaku Konsumen 4

2011
10.01

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon. Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology – Bogor Agricultural University

Lecturer: Dr Ir Ujang Sumarwan, M.Sc

Session 4

Proses Belajar

–          Proses untuk meraih pengetahuan dan pengalaman

–           Mengakibatkan perubahan perilaku

Hal penting mengenai belajar:

–          Berkelanjutan

–          Pengalaman memiliki peranan penting

–          Bermakna luas

Syarat belajar:

–          Motivasi: dorongan dalam diri karena adanya kebutuhan

–          Isyarat: stimulus yang mengarahkanmotivasi, mempengaruhi reaksi konsumen terhadap suatu motivasi

–          Respons: reaksi konsumen terhadap isyarat

–          Pendorong atau penguatan: meningkatkan kecenderungan konsumen untuk berperilaku pada masa yang akan dating karena adanya isyarat atau stimulus

Jenis proses belajar

–          Kognitif : menekankan pada proses mental konsumen dalam memperlajari informasi

–          Perilaku: Terjadi perubahan perilaku akibat pengalaman

ü  Classical conditioning: makhluk hidup belajar dari pengulangan

3 Konsep utama:

  • Pengulangan
  • Generalisasi stimulus: kemampuan seorang konsumen untuk bereaksi sama terhadap stimulus yang berbeda
  1. Perluasan lini produk (Product Line Extension): Penambahan varian yang berbeda dari satu jenis produk, dilakukan oleh brand yang sudah terkenal baik di kalangan konsumen.
  2. Family Branding: Memiliki banyak kategori produk dalam satu brand
  3. Me too Products (Look Alike Packaging): Memiliki kemasan yang sama dengan brand yang sudah ternama.
  4. Similar name: menggunakan nama yang hampir sama dengan brand yang sudah terlebih dahulu menguasai pasar, berusaha menunjukkan citra produk sama dengan produk yang  ditirunya.
  5. Licencing: Pemberian merek dengan nama selebriti dan orang terkenal lainnya
  6. Generalisasi situasi pemakaian: perluasan lini produk + generalisasi perluasan pemakaian
  • Diskriminasi stimulus: upaya yang biasanya dilakukan perusahaan besar untuk menunjukkan kelebihan produknya yang tidak dimiliki oleh produk lain yang menirunya. Biasanya dilakukan dengan melakukan perbandingan.
  1. Positioning: citra/image/persepsi konsumen terhadap produk
  2. Differentiation: produsen berusaha mengkomunikasikan berbagai atribut dari produknya yang tidak dimiliki oleh produk lain

Oleh: Kasfy Allama, Mayor Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat-College of Human Ecology-Bogor Agricultural University

 

Perilaku Konsumen 3

2011
09.25

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon. Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology – Bogor Agricultural University

Lecturer: Dr Ir Ujang Sumarwan, M.Sc

Session 3

Pegolahan Informasi

Terdapat 5 tahap pengolahan informasi:

 

 

Stimulus:  Rangsangan yang diterima oleh panca indera

  1. Pemaparan

Dilakukan oleh pemasar untuk menyampaikan stimulus kepada konsumen

Konsumen yang merasakan stimulus pada panca inderanya = mengalami sensasi

Sensasi dipengaruhi oleh:

  1. Ambang absolut: Jumlah minimum intensitas atau energi stimulus yang diperlukan oleh seorang konsumen agar ia merasakan sensasi
  2. Perbedaan ambang: Batas perbedaan terkecil yang dapat dirasakan antara dua stimulus yang mirip

Formulasi model Weber

∆I = I x K

∆I =  perbedaan terkecil dari intensitas stimulus yang diperlukan untuk menghasilkan JND

I = Intensitas stimulus awal sebelum perubahan

K = Konstanta (jumlah peubah dalam stimulus yang diperlukan)

  1. Perhatian

Faktor pribadi merupakan karakteristik konsumen yang muncul dalam diri konsumen

Faktor stimulus dapat dikontrol dan dimanipulasi oleh pemasar dan pengiklanan untuk menarik perhatian konsumen

Faktor stimulus

  1. Ukuran (size)
  2. Warna
  3. Intensitas
  4. Kontras
  5. Posisi
  6. Petunjuk
  7. Gerakan
  8. Kebauran
  9. Isolasi
  10. Stimulasi yang di sengaja
  11. Pemberi pesan yang menarik
  12. Perubahan gambar yang cepat
  13. Pemahaman

Usaha konsumen untuk mengartikan stimulus

3 Prinsip perceptual organization :

  • Figure and ground

Gambar merupakan objek yang ditempatkan dalam suatu latar belakan gkonsumen cenderung memisahkan antara objek dan latar belakang.

  • Grouping
  • Closure

Konsumen melengkapi atau mengisi bagian yang hilang dari objek tersebut

  1. Penerimaan

Menyimpulkan stimulus dan persepsi konsumen terhadap objek atau citra produk

Persepsi konsumen merupakan output dari penerimaan konsumen terhadap stimulus.

  1. Retensi

Memindahkan stimulus ke memori jangka panjang

Memori :

  • Sensori  : Sementara
  • Jangka Pendek  : waktu terbatas , kapasitas yang terbatas
  • Jangka Panjang  : waktu lama , kapasitas tidak terbatas

Retrieval

Memanggil kembali atau mengingat informasi yang telah disimpan dalam memori jangka panjang.

 

 

Stimulus bagi Perilaku Konsumen

Pertanyaan:

  1. Apa yang menyebabkan faktor stimulus sangat penting bagi pemasar?
  2. Mengapa konsumen dapat mengartikan stimulus dengan closure?
  3. Bagaimana caranya agar stimulus dapat berpindah ke memori jangka panjang?

 

Jawaban

  1. Faktor stimulus sangat penting bagi pemasar karena faktor stimulus sangat berperan dalam pemasaran terutama dalam hal menarik perhatian konsumen. Pemasar mengontrol dan memanipulasi stimulus untuk mendapat respon yang baik dari konsumen.
  2. Closure merupakan salah satu upaya konsumen dalam memahami stimulus. Closure dapat berupa bagian atau ciri khusus atau padanan dari sebuah stimulus sehingga dengan closure, konsumen dapat terangsang untuk melengkapi atau mengisi bagian yang hilang dari sebuah stimulus.
  3. Tidak mudah memindahkan stimulus ke dalam memori jangka panjang. Dalam pemasaran, pemasar harus dapat membuat sebuah iklan yang dapat dipindahkan ke memori jangka panjang oleh konsumen. Pertama, sebuah stimulus harus mendapatkan perhatian yang lebih dari konsumen. Pemasar berusaha menarik perhatian konsumen dengan memanipulasi berbagai faktor stimulus. Selanjutnya, stimulus harus dapat dipahami dan diterima oleh konsumen. Tidak hanya itu, yang terpenting adalah menanamkan ingatan konsumen akan stimulus tersebut dengan mengulangnya berkali-kali.

 

Oleh:

Kasfy Allama, Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat – College of Human Ecology

Perilaku Konsumen 2

2011
09.17

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon

Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology-Bogor Agricultural University

Lecturer: Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

Session 2

Kepribadian (Personality)

  • Merupakan gabungan dari berbagai karakter
  • penting bagi pemasar,  terkait dengan perilaku konsumen
  • Karakteristik psikologis, merefleksikan bagaimana seseorang bereaksi terhadap lingkungan.
  • Respon konsisten terhadap ragsangan lingkungan (Engel, Blackwell)
  • Pola perilaku, termasuk pemikiran dan emosi yang mencirikan tiap adaptasi individu pada berbagai situasi (Mowen & Minor 1998)
  • Menggambarkan perbedaan individu
  • Menunjukkan konsistensi dan tahan lama
  • Dapat berubah

Teori Kepribadian

a)      Teori Kepribadian Freud

Kepribadian datang dari dalam diri manusia

ü  Id (dasar)

ü  Superego (Patuh)

ü  Ego (Penyeimbang)

Contoh: Ketertarikan lawan jenis (Id)

b)      Teori Kepribadian Neo-Freud

Kebalikan teori Freud = Teori sosial psikologi

Kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan sosial (bukan insting), motivasi berprilaku untuk memenuhi kebutuhannya

c)       Teori Ciri (Trait theory)

Mengukur kepribadian konsumen dengan pendekatan kuantitaif , mengklasifikasikan manusia ke dalam karakteristik atau sifat/cirinya yang paling menonjol

Psikografis dalam Perilaku Konsumen

Segmentasi pasar berdasarkan:

  • Geografi (wilayah)
  • Demografi (usia, pendidikan, pekerjaan)
  • Psikografi (gaya hidup, kepribadian, values)
  • Behavioral

Kepribadian dan Perilaku Konsumen

Dengan mengetahui perilaku konsumen, pemasar dapat merancang komunikasi yang sesuai dengan konsumen.

Gaya hidup

Pola dimana seseorang hidup dan menggunakan uang dan waktunya

Pola konsumsi yang menggambarkan pilihan tentang bagaimana iamenggunakan uang dan waktunya

 

Karakter dan Gaya Hidup

Berdasarkan diskusi yang kami lakukan di kelas, diperoleh karakter positif dan karakter negatif kelompok kami sebagai berikut:

1. Karakter positif

a. Baik

b. Bertanggung jawab

c. Murah senyum

d. Sabar

e. Ramah

 

2. Karakter negatif

a. Suka menunda

b. Susah nyambung (Loading lama)

c. Pelupa

d. Tidak sabar

e. Mudah panik

 

Gaya hidup masyarakat sekitar saat ini

1. Hedonis

2. Serba instan

3. Individualis

4. Suka nge-gank

5. Anak kecil yang tidak lagi mengenal lagu dan permainan anak-anak

 

Tren yang ada pada masyarakat saat ini

Pakaian: Meniru gaya berpakaian artis-artis dalam dan luar negeri

Komunikasi: Merebaknya penggunaan jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan lain-lain

Gadget: Penggunaan smartphone blackberry, android, iPhone, dan lain-lain.

 

Oleh

Kasfy Allama, Mayor Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat-College of Human Ecology

 

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon. Department of Family and Consumer Sciences, College of Human Ecology- Bogor Agricultural University

2011
08.25

Lecturer: Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

Session 1:

www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Motivation and Value

Maybe it’s not the first meeting of consumer behavior class, but this is our first meeting with Mr. Ujang, because in the first meeting, we taught by Mr. Djamalludin.

In this second meeting of consumer behavior class, as I told before, we taught by our lecture, Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. In this session, more or less, he told us about motivation and values. Motivation and values here, of course still have a relation with consumer behavior.

Motivation is a pull or force that causes a consumer wants to purchase or buy something. The motivation is generally different between a consumer and the other consumers depends on what they need.

Motivation makes us do something that can satisfy our utilitarian or hedonic needs. Utilitarian needs can be explained as needs that have a real form as an object. For example, we need glasses to make our view clearer. Different from utilitarian needs, hedonic needs explained as needs that have no form, can’t be mentioned as an object, and subjective. For example, we need to feel respected by others.

Needs can be explained in two different theories depends on the type, Drive theory and Expectancy theory. Drive theory focuses on biological needs and expectancy theory said that behavior pushed with the expectation to reach or achieve something.

Needs, according to Maslow’s hierarchy of needs, from the bottom to the top divided into five: Physiological, safety, belonging, ego needs, and self- actualization.



Physiological needs is very basic needs that must be satisfied by each person.  Our needs that included in physiological needs are breathing, food, water, etc. The second is our needs for safety. It’s include our needs to feel safe in our life, for example is the protection or warranty of our body, employment, health, property, and others. The next needs is belongingness. It’s include our needs to make a friend with other, to make a good relation with our friends and family, etc.  Then, the ego needs that include self esteem, confidence, achievement, status, respect of others, and respect by others. The last, is self-actualization needs. We need to have an existence and be what we want to be. We need to realize what the biggest potential we have and develop it to make us exist and recognized by others. Our self can be actualized by morality, creativity, spontaneity, problem solving, lack of prejudice, and acceptance of  facts.

Value is an important thing that can influenced people’s consumption. There are three value’s characteristics: universal, dynamic/flexible, and can be challenged.

That’s all about our first meeting with Mr. Ujang on consumer behavior class. It’s pure from my memory from consumer behavior class but I get some from internet, specifically from

http://en.wikipedia.org/wiki/Maslow’s_hierarchy_of_needs

Thank you

 

 

By Kasfy Allama Majoring Communication and Community Development – College of Human Ecology.

cerita inspirasi 2

2010
09.15

-pengalaman orang lain-

Ada seorang wanita yang bekerja di sebuah lembaga Negara. Awalnya, ia berpenampilan anggun dan rapi dengan jilbab yang tertutup rapat dan pakaian yang sewajarnya. Suatu ketika, ia berangkat umrah dengan menggunakan layanan travel bersama teman sekantornya. Di Tanah Suci, ia tak pernah ingin melaksanakan shalat di masjid. Teman sekantornya itu selalu mengajaknya shalat berjamaah, tetapi ia selalu menolak dengan alasan letih. Sungguh sangat disayangkan perilakunya tersebut. Begitu banyak uang yang dibayarkan untuk melaksanakan umrah tetapi ia tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beribadah secara maksimal kepada-Nya. Selesai umrah, ia mengubah penampilannya yang anggun dan rapi itu. Kini ia berpenampilan dengan poni di jilbabnya yang menyentuh matanya beserta pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Teman-teman sekantornya sangat terkejut melihat hal itu. Umumnya, sehabis umrah, seseorang akan bertambah kuat keimanan dan keislamannya. Lain halnya dengan wanita itu yang seolah berkurang ketaatannya dengan syariat Islam. Suatu ketika, ada seorang wanita, teman sekantornya yang sudah tidak tahan melihat penampilannya yang berubah itu. teman sekantornya tersebut lalu membelikannya sebuah penutup kepala yang biasanya dipakai sebelum menggunakan jilbab. Walau sudah begitu, tetap saja ia tidak mengubah penampilannya kembali. Sekarang ia tidak lagi disegani oleh orang-orang disekitarnya, tetapi menjadi bahan pembicaraan. Dari cerita tersebut, kita semua dapat mempelajari bahwa sebelum melakukan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan Tuhan, kita harus selalu meluruskan niat kita. Jika kita meluruskan niat, Insya Allah seluruh kegiatan akan berjalan lancar dan tenang. Terlebih untuk urusan kita dengan Tuhan. Jangan sampai Tuhan murka dengan kita karena melakukan hal yang tidak disukai-Nya.

cerita inspirasi 1

2010
09.13

Nama: Kasfy Allama

NRP: I34100107

Laskar: 3

Saya tidak terlalu pandai dalam pelajaran matematika. Saya sangat jarang mendapatkan nilai yang memuaskan untuk pelajaran tersebut. Ketika saya kelas 2 SMA semester 1, saya sedih karena nilai ulangan matematika saya dari ulangan blok 1 hingga ulangan blok 4 kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal(KKM). Saya merasa malu dengan adik-adik saya karena saya adalah anak sulung yang seharusnya menjadi panutan bagi mereka termasuk dalam masalah akademik. Saya juga malu dengan teman-teman saya sehingga jika teman saya menanyakan nilai ulangan matematika pada saya, saya tidak pernah memberitahu. Hal yang lebih menjadi pikiran saya adalah tanggapan kedua orangtua saya ketika melihat nilai rapor semester 1. Mereka memang tidak memarahi saya, tetapi dari ucapan mereka tersirat bahwa mereka kecewa dengan nilai matematika yang saya peroleh. Terlebih, saat saya melihat ekspresi kekecewaan mereka setelah melihat rapor itu, saya merasa saya belum bisa memberikan sesuatu yang terbaik untuk mereka, yaitu sebuah prestasi akademik. Satu prinsip yang saya pegang, saya akan berusaha memberikan hasil yang terbaik untuk dipersembahkan kepada kedua orangtua saya tanpa ada unsur kecurangan didalamnya, yaitu menyontek. Begitu banyak teman yang berusaha mendapatkan nilai bagus dengan menyontek, tapi saya selalu yakin bahwa setiap perbuatan pasti akan ada balasannya. Ketika memasuki semester 2, saya bertekad untuk meningkatkan nilai-nilai akademik saya, terutama untuk pelajaran matematika. Saya terus berusaha dan berdoa untuk dapat mewujudkannya. Alhamdulillah, harapan saya dapat terwujud. Nilai-nilai akademik saya semakin meningkat dari ulangan blok 1 hingga ulangan blok 4, termasuk pelajaran matematika. Bahkan, pada ulangan blok 4, sebagian besar mata pelajaran mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal yang membuat saya senang adalah saya mendapat nilai 100 untuk ulangan blok 4 pelajaran matematika. Ketika menerima kertas hasil ujian, saya merasa senang tiada tara. Seumur hidup, baru sekali saya mendapat nilai 100 untuk ulangan matematika. Rasa senang dan syukur itu pun bertambah ketika saya memberitahu kedua orangtua saya tentang hasil tersebut. Ekspresi wajah mereka terlihat sangat senang dan mereka pun tiada hentinya memuji saya. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mempersembahkan sesuatu yang bisa membahagiakan kedua orangtua saya dengan kerja keras saya sendiri dan tentunya dengan kehendak Yang Mahakuasa. Dari pengalaman berharga ini, saya menyadari bahwa sebuah prestasi dapat diraih apabila kita memiliki keinginan yang kuat, selalu berusaha, berdoa kepada Tuhan, berperilaku jujur, dan sabar.